Akhlak Usahawan Muslim

Akhlak Usahawan Muslim

Muhammad Ridha

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Sejatinya, setiap langkah dan gerakan seorang muslim diiringi oleh kepatuhan terhadap kode etik yang dapat memelihara kejernihan aturan Ilahi. Tak terkecuali dalam usaha bisnis. Adalah sikap yang seperti itulah yang dapat membuat usaha bisnis terjauhi dari serakah dan egoisme. Berikut kode etik yang dimaksud agar bisnis yang dijalankan selalu mendapat berkah dan perlindungan Allah, menjadikan harta titipan Tuhan ini dapat dikelola dengan baik oleh manusia dan bermanfaat bagi sekitarnya.

Pertama, niat yang tulus. Sebagai gerbang setiap usaha yang dilakukan menjadi ibadah, niat yang tulus diperlukan bagi setiap insan. Karena segala amal perbuatan itu berawal dari niat . Niat disini dalam konteks adanya keinginan baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Selalu menjaga diri dan kerabat terdekat dari harta yang haram, menjaga silaturahim, dan sebagainya. Kedua, budi pekerti luhur. Budi pekerti yang luhur atau biasa kita sebut sebagai akhlakul karimah merupakan salah satu tonggak penting dalam kehidupan beragama. Seorang pengusaha muslim yang baik tentun selalu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, hal ini akan menjadikannya sebagai pribadi yang kokoh, membawa usaha yang ada berjalan dengan penuh berkah dan kebaikan.

Ketiga, usaha yang halal. Adalah hal yang percuma apabila seseorang, yang sudah memiliki niat yang baik dan berakhlak mulia, namun menjalankan usaha yang tidak halal. Usaha yang halal seharusnya menjadi ciri khas aktivitas bisnis dari seorang muslim dan hal ini harus dipegang teguh oleh seluruh muslim di dunia (Al Maidah: 100). Keempat, menunaikan hak. Seorang pengusaha muslim akan menyegerakan menunaikan hak orang lain, baik berupa upah pekerja maupun hutang terhadap pihak tertentu. Rasulullah sendiri bersabda untuk menyegerakan pemberian upah pekerja sebelum keringatnya kering, hal ini berarti bahwa pemberian hak atas kewajiban yang sudah ditunaikan harus diberikan sesegera mungkin sesaat setelah kewajiban tersebut selesai ditunaikan.

Kelima, menghindari riba dan segala sarana riba. Riba adalah salah satu dari jutuh perbuatan yang membinasakan. Orang yang memakan harta riba diibarakan seperti orang yang kesurupan setan. Allah dan rasulNya telah dengan sangat jelas melarang adanya seorang muslim untuk memakan harta riba, karena jauh lebih banyak mendatang mudharat baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Keenam, menjaga komeitmen terhadap peraturan dalam undang-undang syariah. Dan terakhir, yaitu tidak membahayakan orang lain dan loyal kepada orang-orang beriman.

Berbagai kode etik di atas adalah sandaran bagi seorang muslim atas segala aktifitas yang setiap hari dilakukan, tak terkecuali dalam hal berbisnis. Alangkah baiknya, seluruh kode etik tadi dijadikan dasar aktifitas kita agar senantiasa diberkahi oleh Allah swt.