Kartu Kredit dan Perilaku Konsumen di Indonesia

Kartu Kredit dan Perilaku Konsumen di Indonesia

Muhammad Ridha[1]

1006696472

Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi di masa kini memberikan  begitu banyak manfaat dan kemudahan bagi kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Berbagai kegiatan, mulai dari pekerjaan di kantor, olahraga, hiburan, dan termasuk dalam berbelanja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Adalah kartu kredit, salah satu inovasi dalam dunia perbankan, dimana pengguna tidak perlu lagi membawa berlembar-lembar uang di dalam dompet dalam setiap transaksi jual beli produk. Kemudahan ini memberikan ruang pula bagi konsumen kartu kredit untuk dapat membeli produk di saat uang kas sedang tidak ada di tangan. Namun kartu kredit pula lah yang semakin mendorong pola konsumsi masyarakat di Indonesia, melebihi  batas budget constraints yang sewajarnya dihadapi. Di satu sisi, keberadaan kartu kredit cukup baik dimana individu dapat menaikkan tingkat utilitas (kepuasan) terhadap konsumsi barang, namun di lain pihak hal ini justru menjadi malapetaka bagi individu itu sendiri.

Kartu Kredit dan Maksimalisasi Utilitas

Consumer credit sebenarnya hal yang umum ada di dalam setiap transaksi ekonomi yang ada. Sudah sejak dahulu kita mengenal adanya hutang antara penjual dan pembeli, dan kemudian kini muncul kartu kredit sebagai bentuk consumer credit modern.

Data Bank Indonesia menyebutkan bahwasanya pengguna kartu kredit di Indonesia meningkat sebesar 18 persen pada akhir tahun 2010. Dari total 13,4 juta pengguna kartu kredit, terlihat bahwa pertumbuhan konsumsi produk yang cukup pesat di Indonesia ini ditandai dengan semakin mudah dan terjangkaunya masyarakat akan produk yang diinginkan, salah satunya akibat adanya kartu kredit ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri melansir bahwasanya masih ada sekitar 104 juta masyarakat Indonesia yang berpotensi untuk menggunakan kartu kredit. Dapa diindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia cukup aware akan teknologi tersebut dan tertarik untuk menggunakannya. Hal ini juga dapat ditafsirkan sebagai potensi bagi masyarakat Indonesia untuk dapat meningkatkan kegiatan konsumsi  barang tanpa harus terbatas kepada tingkat pendapatn atau uang kas yang dimiliki saat ini.

Penelitian Sporleder dan Wilson (1974) memaparkan bahwasanya penggunaan kartu kredit berpengaruh terhadap tingkat budget constraints.[2] Dari grafik di samping, kartu kredit dianggap sebagai bagian dari pendapatan individu sehingga dianggap sebagai budget constraints (hambatan pendapatan). Pergesaran garis ke arah luar meperlihatkan penggunaan kartu kredit menambah pendapatan sehingga konsumen dapat mengkonsumsi barang lebih banyak dari saat pendapatan sebelumnya.

Namun seperti yang kita bahas sebelumnya bahwa bukan tidak mungkin penggunaan kartu kredit ini justru menyebabkan kerugian bagi individu pengguna. Perbankan bukan dengan cuma-cuma memberikan fasilitas kartu kredit. Ada credit limit, yaitu batasan besaran transaksi bagi seseorang dalam menggunakan kartu kredit tersebut, sehingga pergeseran garis budget constraints tadi akan terbatas pada seberapa besar konsumsi individu ataupun credit limit itu sendiri.

Di Indonesa dan kebanyakan kasus di negara lain di dunia, adanya credit limit  ini disiasati dengan kepemilikan kartu kredit dari perbankan lain, sehingga konsumsi bisa terus bertambah seiring pertambahan kepemilikan kartu kredit tersebut. Namun perlu disadari kembali bahwa kartu kredit mengandung unsur “kredit” di namanya, dimana berlaku prinsip bunga yang dikenakan atas setiap transaksi yang dilakukan. Hal ini yang akan menjadi malapetaka. Di satu sisi, pendapatan individu tidak akan berubah, sementara transaksi konsumsi barang menggunakan kartu kredit semakin bertambah, ditambah dengan bunga yang harus dibayar nantinya. Dan akhirnya individu tersebut tidak dapat membayar angsuran plus bunga kepada setiap perbankan dan akhirnya jatuh bangkrut.

Hal ini sebenarnya sudah cukup lama menjadi concern Bank Indonesia, dimana pihak bank tersebut mengamanahkan kepada setiap bank yang ada untuk transparan akan setiap konsekuensi yang ada dari penggunaan kartu kredit.[3] Keberadaan kartu kredit disadari dapat meningkatkan konsumsi masyarakat namun disisi lain membawa ancaman besar suatu saat jikalau hal yang tidak diinginkan terjadi. Terlebih lagi, Indonesia belum memiliki lembaga pemeringkat kredit resmi, sehingga akan sangat sulit bagi pihak perbankan untuk terus mengontrol kredit yang buruk atau tidak di setiap transaksi ekonomi yang ada.


[1] Mahasiswa Jurusan Akuntansi 2010, Fakultas Ekonomi UniversitasIndonesia

[2] Sporlederm Thomas L., Wilson, Robert R. “Credit Card Purchasing and Static Consumer Behaviour”. American Journal of Agricultural Economics.OxfordUniv. Press : 1974

[3] BBC Indonesia.”BI Akan Batasi Penggunaan Kartu Kredit.” (BBC Online: 13 April 2011) http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/04/110413_kartukredit_dibatasi.shtml