Koperasi Nelayan : Antara Keputusan dan Keputusasaan

Harian Kompas tertanggal 9 Desember 2011 mengangkat satu artikel menarik mengenai keberadaan koperasi nelayan di tengah hiruk-pikuk masalah yang dialami para petualang samudera itu. Di tengah kontradiksi mengenai keputusan impor ikan yang dilakukan pemerintah, koperasi ternyata ikut terlibat dan menjadi salah satu importir ikan ke dalam negeri. Ironi tersebut justru muncul disaat para nelayan sedang sulit mendapat ikan karena cuaca buruk beberapa waktu belakangan ini.

Kegiatan koperasi ini justru didukung oleh Ketua Umum Induk Koperasi Perikanan Indonesia, ia menyebutkan bahwa sudah saatnya kopeasi terjun sebagai agen impor perikanan. Hal ini merupakan pernyataan yang keliru, terlebih keputusan ini seakan tidak memperdulikan kepentingan para nelayan itu sendiri. Memang betul bahwasanya harga ikan lokal yang mahal membuat para pengolah ikan kesulitan untuk berproduksi, sehingga menyediakan ikan murah bagi para pengolah ikan tersebut sah saja.Andai kita kembali untuk merenungi arti dan fungsi sebuah koperasi, hal ini bisa dihindari. Pertama, koperasi sejatinya adalah media bagi para anggotanya untuk bisa memajukan kesejahteraan bersama para anggota. Alangkah lucunya sebuah koperasi nelayan justru tidak menguntungkan nelayan sebagai anggotanya. Kedua, koperasi bukan perpanjangan tangan pemerintah, bukan alat untuk menjalankan berbagai kebijakan. Selama ini dengan begitu besarnya “perhatian” pemerintah terhadap koperasi membuat badan usaha ini menjadi begitu tergantung dengan pemerintah bahkan justru menjadi alat pelaksana kebijakan pemerintah. Hal ini yang harus dihindarkan. Namun lantas aoa yang harus dilakukan koperasi? Apa solusi atas permasalahan ini?

Alih-alih mengimpor ikan untuk memenuhi kebutuhan para pengolah ikan, koperasi dapat melakukan hal lain yang mendukung kegiatan nelayan dengan tetap memperhatikan kebutuhan para pengolah ikan. Sulitnya para nelayan kini mencari ikan bukan hanya karena cuaca buruk, tapi juga karena pola dan proses penangkapan ikan yang tidak manusiawi seperti pengeboman. Pengeboman justru mematikan satu ekosistem yang ada, tidak hanya ikan dewasa, sel telur dan ikan kecil pun ikut lenyap sehingga regenerasi ikan semakin terhambat. Disinilah peran koperasi seharusnya, memberikan pendidikan yang baik mengenai cara menangkap ikan yang baik dan benar dengan tetap mendapatkan hasil yang banyak. Dengan adanya pendidikan bagi para nelayan itulah mereka dapat dengan lebih baik menghasilkan tangkapan namun juga tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan

Originally written by Muhammad Ridha