THE GREAT DEPRESSION (1930s)

Tahun 1930an adalah tahun peristiwa mengenaskan mengenai depresi besar-besaran yang terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk negara super power, Amerika Serikat. Depresi ini terjadi begitu dahsyatnya sehingga menyebabkan melemahnya ekonomi, meningkatnya tingkat pengangguran, dan berbagai hal lainnya. Berikut data mengenai keadaan AS selama tahun 1929 hingga 1940.

Tabel : Data Keadaan Ekonomi Amerika Serikat selama periode The Great Depression 


Berdasarkan data yang tertera di atas, apakah yang sebenarnya terjadi ?  Apakah the great depression dan apa sebab terjadinya peristiwa tersebut, dianalisa berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya? Bagaimana kaitan peristiwa dan data tersebut dengan penjelasan dari sisi Aggregate Demand dan Model IS-LM?

 Pengaruh Kurva IS

Seperti yang telah kita ketahui bahwasanya kurva IS dapat menjelaskan aggregate demand dari sisi pasat barang dan jasa (keynessian cross).  Pergeseran kurva yang terjadi dapat menjelaskan pengaruh berbagai faktor tertentu terhadap perubahan tingkat output atau pendapatan (Y) dan tingkat bunga (r).

Terdapat suatu hipotesa mengenai penyebab terjadinya great depression ini yaitu spending hypothesis. Hipotesis in menjelaskan bahwa terjadinya penurunan tingkat spending dalam pasar barang dan jasa membuat perekonomian mengalami depresi. Penurunan tingkat spending ini terlihat dari kontraksi kurva IS.

Penyebab kontraksi kurva IS dapat dilihat dari berbagai hal. Pertama, adanya penurunan tingkat konsumsi nasional selama tahun 1929 hingga tahun 1933 (139,6 menjadi 112,8). Black Tuesday (29 Oktober 1929) disebut-sebut sebagai penyebab utama terjadinya penurunan tingkat konsumsi[1]. Peristiwa pada hari tersebut adalah adanya stock market crash di Wall Street yang menyebabkan frustasi berkepanjangan bagi warga Amerika Serikat. Crash tersebut menyebabkan warga mengalami kerugian yang sangat dahsyat sehingga harus memangkas tingkat pengeluaran mereka untuk konsumsi. Kekhawatiran akan keadaan keluarga pun membuat mereka memilih untuk menurunkan konsumsi dan memilih untuk menyimpannya saja.

Penyebab kedua adalah dari segi investasi. Tingkat investasi di AS menurun drastis dari 40,4 hingga mencapai titik terendah 4,7 dari tahun 1929 hingga 1932. Penurunan investasi ini diindikasikan berasal dari investasi perumahan. Dikarenakan tren perumahan begitu menjanjikan di tahun 1920an, pembangunan perumahan langsung meningkat tajam. Namun disaat akhirnya masyarakat tersadar bahwa mereka telah mencapai tingkat overbuilding, permintaan akan perumahan anjlok. Penurunan drastis inilah yang menyebabkan tingkat investasi dalam real estates & housing turun. Selain itu adanya blunder dalam pembuatan regulasi perbankan membuat tingkat investasi semakin anjlok selama masa depresi tersebut.

Dan ketiga, adalah dari sisi pengeluaran pemerintah. Tingkat terus mencapai defisit di awal tahun 1930.Para pejabat negara pun akhirnya mengeluarkan kebijakan fiskal, namun hanya berkonsentrasi pada menjaga stabilitas keadaan anggaran negara, yaitu mengurangi defisit anggaran, tidak fokus pada penjagaan tingkat produktifitas dan rasio tenaga kerja negara saat itu. Ketiga hal di atas menjadi alasan mengapa kontraksi kurva IS terjadi, dan mencerminkan terjadinya depresi besar-besaran di Amerika Serikat

Efek Penurunan Harga

Kita mengetahui sebelumnya bahwasanya setiap penurunan tingkat harga akan meningkatkan pendapatan secara riil. Contohnya dengan jumlah uang Rp 500.000 individu dapat membeli katakanlah 4 buah pakaian kualitas ekspor seharga Rp 125.000 per buah. Namun, apabila harga pakaian tersebut turun menjadi Rp 100.000 per buah, maka pendapatan riil individu tersebut meningkat sehingga kini ia dapat membeli 5 potong pakaian.

Analogi ini ternyata terbantahkan dalam keadaan The Great Depression. Adanya deflasi yang terjadi hingga 25 persen justru menyebabkan meningkatnya tingkat pengangguran di AS dari 3,2% pada tahun 1929 hingga mencapai 25,2% pada tahun 1933. Selain itu deflasi ini juga menyebabkan tertekannya tingkat pendapatan masyarakat. Dengan begitu teori sebelumnya terbantahkan bahwa penurunan harga saat deflasi tidak menyebabkan peningkatan pendapatan.

Adalah Arthur Pigou, ekonom yang berargumen bahwasanya real money balances merupakan bagian penting dalam kesejahteraan rumah tangga. Dengan menurunnya tingkat harga, real money balances rumah tangga meningkat sehingga mereka dapat melakukan spending lebih banyak. Dengan analogi ini, Pigou berpendapat bahwa keadaan deflasi akan memberikan efek stabilisasi atas perekonomian itu sendiri, dengan meningkatnya real money balance akan menggeser kurva IS-LM secara ekspansif dan meningkatkan pendapatan riil.

Namun, sebagian ekonom lain berpendapat bahwa penurunan tingkat harga yang terjadi saat perekonomian depresi justru menekan tingkat pendapatan ketimbang meningkatkan pendapatan riil itu sendiri. Teori pertama adalah debt-deflation theory. Teori ini menjelaskan bahwa adanya pengarunh ekspektasi dan tidak diekspektasinya suatu perubahan harga terhadap tingkat pendapatan.

Teori ini menjelaskan dengan mekanisme keadaan debitur dan kreditur. Nilai riil dari jumlah uang yang dipinjam oleh debitur dipengaruhi oleh tingkat harga (jika meminjam Rp 100.000 maka nilai riilnya adalah Rp 100.000/P, dimana P adalah tingkat harga). Maka semakin rendah tingkat harga, nilai riil jumlah yang yang dipinjam akan meningkat, yang notabenenya nilai riil tersebut mencerminkan purchasing power debitur. Debt-deflation theory ini menjelaskan bahwa redistribusi kekayaan ini berpengaruh pada tingkat konsumsi pada barang dan jasa. Saat seorang debitur meminjam uang, ia akan mengurangi konsumsinya demi melunasi hutang tersebut, sementara kreditur akan menggunakan uang tersebut untuk konsumsi. Namun kenyataannya jumlah uang yang dikurangi dari konsumsi debitur lebih besar dari jumlah yang ditambah pada konsumsi kreditur. Hal ini lah yang menyebabkan pengurangan tingkat spending sehingga menggeser kurva IS ke kiri dan mengurangi tingkat pendapatn nasional.

Teori kedua menjelaskan efek dari ekspektasi terhadap deflasi itu sendiri. Semakin banyak orang yang berekspektasi bahwa harga akan turun, nilai Eπ akan semakin negatif. Dengan begitu masyarakat akan mengurangi pengeluaran pada investasi dan akan menggeser kurva IS dari IS1 ke IS2 , kemudian akan mengurangi tingkat pendapatan nasional dari suatu negara. Itulah kira-kira yang terjadi saat masa depresi besar-besaran di Amerika Serikat.

About these ads